|
Berita Utama
Bupati Syaukani di Pentas Dunia Kisah sukses Bupati Prof Dr H. Syaukani HR, SE, MM di depan sidang
tahunan ILO namun masih juga menuai kritik di dalam negeri.
Koransia, Agustus 2006:
Bukan secara kebetulan Organisasi Buruh Internasional yang berkedudukan
di Jenewa mengundang Syaukani berbicara di depan delegasi dari 178
negara tentang penghapusan buruh anak. ILO tertarik pada program Zona
Bebas Pekerja Anak—Free Zone of Child-Labor (ZPBA)—yang dicanangkan
Syaukani tahun 2002.
Awal Juni lalu (9/6), mendapat kehormatan untuk tampil di pentas dunia,
berbicara tentang penetapan jadwal waktu pencanagan zona bebas pekerja
anak di Kutai Kertanagara di dalam sidang tahunan ke 95 ILO di markas
PBB di Jenewa, Swiss. Syaukani mendapat kesempatan dua kali tampil untuk
menyampaikan perkembangan pelaksanaan program ZBPA di Kukar.
Kesempatan pertama berpidato di depan para delegasi anggota
International Program for Elimination of Child-Labor (ILO-IPEC). Kedua
kalinya, mewakili pemerintah Indonesia berpidato di depan Global Report
Forum yang dihadiri delegasi dari 178 negara. Demikian dikemukakan oleh
Sekretaris Daerah Kukar Drs HM Husni Thamrin MM yang mengikuti rombongan
bupati Syaukani.
Syaukani mengemukakan bahwa dengan diterapkannya ZBPA, dalam empat
tahun, jumlah pekerja anak di daerah menurun drastis; dari 11.623 orang
tahun 2002, menjadi hanya 1.500 tahun 2006. Karena itu Syaukani
meyakinkan para anggota delegasi dunia bahwa dengan kerja keras dan
penyuluhan terus menerus, pada tahun 2008 di Kukar tak ada lagi pekerja
anak.
Sementara itu Syaukani memperkenalkan Program Pengembangan dan
Pemberdayaan Kutai (Gerbang Dayaku) kepada masyarakat dunia. Kata
Syaukani, program yang memasuki tahapan kedua ini menajam pada
peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan kesehatan. Di dalam
program ini para siswa dibebaskan dari pembayaran biaya sekolah sampai
usia wajib belajar 12 tahun. Para guru mendapat insentif dan mahasiswa
memperoleh beasiswa. Syaukani yang berpidato dalam bahasa Inggris,
tampil setelah delegasi AS, Brasil dan Inggris.
Syaukani seluruh mengingatkan di dalam pelaksanaan program ZBPA, tidak
bermaksud untuk memanjakan anak tetapi untuk meningatkan kualitas SDM
sehingga menjadi masyarakat yang mandiri dan berdaya. Selain itu, ZBPA
dimaksudkan untuk mengembalikan anak-anak ke bangku sekolah, bukan
menjadi pekerja.
“Tidak ada alasan bagi anak-anak tidak sekolah karena tidak punya biaya.
Masalah itu sudah diatur dalam program ZBPA,” kata Syaukani. Di dalam
peraturan daerah tentang ZBPA, pata orang tua dilarang keras
mempekerjakan anak-anak. Sanksinya hukuman penjara dan denda ratusan
juta rupiah. Kata Syaukani, anak-anak yang terlanjur tak ingin sekolah
formal, ada kegiatan-kegiatan pendidikan yang diadakan Dinas Dikluspora
Kukar.
Tidak Senang Di balik kisah sukses dan tekad Syaukani untuk melepaskan anak-anak dari
kewajiban mencari nafkah, ada saja orang yang tidak senang. Undangan ILO
dipleseti sebagai perjalanan hura-hura untuk menyaksikan pembukaan
turnamen sepakbola Piala Dunia di Jerman. Memang Syaukani membawa
rombongan cukup besar, 116 orang. Tetapi rombongan besar itu, sebagian
besar anggota rombongan kesenian yang mengikuti Festival Seni Tongtong
di Negeri Belanda. Sekretaris Komisi II DPRD Kukar, Ir. H. Irwan
Muchlis, yang juga ikut di dalam rombongan tersebut, membela Syaukani;
tuduhan segelintir orang itu, wujud perasaan tidak senang atas
keberhasilan Bupati Kukar.
Irwan tidak menyebut orang-orang yang tidak senang dengan gerak langkah
Syaukani. Tetapi sudah menjadi rahasia umum, Syaukani bersebrangan
dengan Gubernur Kaltim yang sekarang mendekam di rumah tahanan karena
tuduhan korupsi. Irwan hanya mengatakan dalam era otonomi tidak perlu
ada campur tangan satu daerah pada daerah lain. Seharusnya pihak lain
tidak perlu repot menilai Kukar. Masing-masing daerah punya kewenangan
dan tugas untuk mengurus diri sendiri.
Tim Relawan Bela Syaukani (Trebels) Kalimantan Timur juga menampik isu
yang beredar. “Yang pasti Pak Syaukani menghadiri sidang tahunan ILO
bukan menyaksikan piala dunia,” kata Ketua Umum Trebels Halim Hamid
kepada JPNN (Jawa Pos News Networks). Halim menilai Syaukani pantas
tampil di forum internasional karena memiliki kewibawaan dan kecerdasan
dalam membangun daerah.
Rombongan Kukar 116 orang, terdiri dari seniman, pejabat dan anggota
DPRD Kukar. Mereka ke Den Haag, Belanda, dan Jenewa, Swiss. Rombongan
yang ke Belanda adalah rombongan kesenian daerah Kukar atas undangan
Kedubes Indonesia untuk mengikuti Festival Tongtong, yaitu pentas kreasi
seni dan budaya. Kunjungan ke Belanda juga sebagai tindak lanjut pola
kerjasama pengelolaan air bersih di kawasan Samboja Lestari bersama
yayasan Waterleiding Maatschappij Drenthe (WMD) Belanda. Rombongan ke
Negeri Belanda dipimpin oleh Kadis Pariwisata M. Indra SE MM, sedangkan
Syaukani memimpin rombongan yang ke Jenewa. Festival Seni Tongtong
digelar setiap tahun oleh warga Indonesia di Belanda, dirangkai dengan
peluncuran Garuda TV di sana. Selain rombongan tarian khas Kutai, Dinas
Pariwaisata juga memberangkatkan sejumlah penari khas Kalimantan
(Dayak).
Momentum Baru Bagi Gerbang Dayaku Kabupaten Kutai Kertanagara membentuk badan pengawas lokal untuk memandu
jalannya pembangunan. Di dalam badan tersebut duduk para tokoh tingkat
nasional, provinsi dan kabupaten.
Program Gerbang Dayaku II memasuki momentum baru ketika Bupati Kukar H.
Syaukani HR telah melantik para anggota Satuan Tugas di Gedung Putri
Karang Melenu, Tenggarong. Prinsipnya, kata Syaukani, Satgas ini
dibentuk untuk mendukung pelaksanaan program Gerbang Dayaku (Gerakan
Pengembangan Pemberdayaan Kutai Kartanagara) pada masyarakat Kukar. “Di
dalamnya ada tokoh-tokoh nasional, provinsi dan daerah Kukar sendiri,”
kata Syaukani dalam pidato pelantikan akhir Mei lalu.
Satuan Tugas (Satgas) yang dibentuk lewat surat keputusan Bupati Kukar
No. 180.188/HK-104/2006 ini diharapkan mampu mendukung pencapaian tujuan
terbangunnya pemerintah daerah yang bersih dan madani (clean and good
government).
Para anggota Satgas berasal dari pakar dan praktisi hukum, ekonomi,
pendidikan, profesional dan aparat Pemda Kukar. Mereka nantinya
membidangi sejumlah unsur yang ada di dalam Satgas. Pasalnya, kata
Syaukani, evaluasi pelaksanaan program Gerbang Dayaku memerlukan
perhatian tersendiri di bidang-bidang utama dan vital.
Satgas terbagi dalam beberapa bidang utama, antara lain, Pengawasan dan
Penguatan Supremasi Hukum. Bidang ini melakukan koordinasi dengan
sejumlah instansi terkait dalam pengawasan setiap proses dan kegiatan
yang mempergunakan alokasi anggaran Gerbang Dayaku II. Selain itu,
mengidentifikasi setiap permasalahan dan memberikan rekomendasi hukum
pada Pemkab Kukar dalam pelaksanaan pembangunan Gerbang Dayaku II. Bidang ini juga diminta untuk mengkaji kembali pemberlakuan produk
Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kukar, disesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat setempat dan unsur hukum di atasnya.
Termasuk kebijakan-kebijakan yang diambil Pemkab Kukar, sepanjang
masih relevan dengan tugas dan fungsi pokok Satgas. Bidang Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia merumuskan konsep
strategis di dalam menjabarkan peningkatan SDM masyarakat Kukar.
Sedangkan Bidang Pengembangan Potensi Daerah dan Pendapatan Masyarakat
mempunyai fungsi untuk merumuskan konsep strategis pengembangan potensi
masyarakat Kukar pada program Gerbang Dayaku II.
“Seluruh bidang task force menyusun design sistem administrasi manajemen
Kukar yang bersih dan bebas KKN,” kata Syaukani. o SH
|